Pertama-tama kita harus mengetahui apa sih Environment itu??? Environment adalah lingkungan. Lingkungan keluarga, rumah tangga, lingkungan desa, hingga ke lingkungan kerja. Sedikit mengalami evolusi karena dinamika masyarakat, environment menyeruak menjadi community (komunitas). Lebih dalam maknanya karena community lebih bersifat interaktif, elemen-elemen didalamnya saling aktif berinteraksi, menimbulkan hubungan sebab akibat satu sama lain.
Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan.
Seetelah kita mengetahui arti dari environment maka dapat kita ketahui pula arti dari E-environment karena arti E yang berada di depan kata environment itu mempunyai arti elektronik, jadi dapat kita simpulkan bahwa E –environment itu adalah sebuah alat yang canggih yang dapat mendukung di aspek lingkungan.
Berikut ini merupakan beberapa manfaat dari E-environment yaitu :
1.Penginformasian dapat mencakup masyarakat luas (seluruh dunia)
Dengan memanfaatkan jaringan internet memungkinkan e-environment dapat diakses oleh semua orang di dunia. Hal ini menjadi kemudahan untuk menyampaikan pelestarian lingkungan hidup kepada masyarakat luas. Internet bukan lagi hal tabu dikalangan masyarakat, bahkan anak setingkat sekolah dasar sudah dapat mengakses dan menggunakan internet. Jika internet sedemikian mudahnya diakses, tak hayal ini merupakan sala satu media yang murah, mudah, bahkan dapat mencakup masyarakat secara luas sehingga pesan tentang pentingnya kelestarian lingkungan bias tersampaikan dan diterima.
2.Mempromosikan kekayaan alam yang dimiliki oleh masing-masing daerah
Melalui e-environment, setiap Negara yang terdaftar sebagai anggota wwf(world wide fund) dapat mencantumkan tentang berbagai potensi yang dimiliki tiap-tiap Negara tersebut. Hal ini akan menimbulkan rasa penasaran, sehingga memikat turis mancanegara untuk berkunjung ke Negara tersebut. Hal ini juga akan berdampak atas kemajuan pariwisata dalam negeri, sekaligus menambah devisa Negara. Dengan biaya yang terbilang murah sekaligus memberikan manfaat yang besar. E-environment dapat menjadi sarana mudah berbagi keindahan dan potensi tiap Negara untuk unjuk gigi dalam persaingan pariwisata dunia.
3.Dapat ikut serta dalam program pelestarian alam
Dengan hadirnya e-environment di dunia maya, dapat berdampak positif juga dalam dunia nyata. Dengan efek visual dan pesan yang disampaikan melalu e-environment dapat membentuk kesadaran masyarakat ataupun pembaca dalam memahami pentingnya keseimbangan ekosistem. Karena secara tak langsung, kerusakan dalam ekosistem dapat mengancam keselamatan manusia itu sendiri.
4. Dapat mengetahui cara yang dapat di gunakan untuk melestarikan alam.
Dengan adanya e-environment maka kita dapat mengetahui apa sih dampak dari yang di timbulkan oleh manusia terhadap alam serta kita juga akan mengetahui bagaimana solusi yang dapat kita ambil.
Seperti contoh dibawah ini kita dapat mengaksesnya dari sebuah website yang dapat menginformasikan tentang akibat yang di timbulkan oleh sebuah industri yang dapat merusak lingkungan tetapi ada juga solusi yang dapat kita contoh juga .
Berikut tampilan dari website tersebut :
Penanganan Limbah Udara Industri Pertambangan
Limbah udara merupakan salah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh industri pertambangan. Limbah tersebut dihasilkan sebagai emisi atmosferik dari industri tersebut. Jenis komponen yang termasuk ke dalam emisi tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :
Debu/partikulat
Gas yang diproduksi oleh proses pembakaran, seperti CO, CO2, NOx, SO2
Gas alam, seperti metan, yang banyak dihasilkan pertambangan batu bara dan sedikit pertambangan logam
Coolants, seperti CFCs, yang berasal dari air-conditioners
Dari sejumlah komponen tersebut, emisi debu/partikulat memiliki porsi terbesar dalam kandungan limbah udara kegiatan pertambangan. Debu, pada khususnya, memiliki ukuran partikel 1-10000 mikrometer. Debu tersebut dihasilkan dari aktivitas mekanik pertambangan, seperti pemecahan atau penggerusan batuan, peledakan area tambang, maupun penanganan massa hasil pertambangan. Pada umumnya, sumber utama dari limbah udara tersebut adalah akses pertambangan yang tak diaspal, aktivitas penggalian, pembuangan, operasi sabuk conveyer, serta pembukaan lahan pertambangan.
Adapun penanganan debu tersebut dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap awal dan akhir, berdasarkan besar partikel debu yang dipisahkan.
Tahap awal dikhususkan menangani partikel debu yang berukuran cukup besar berskala milimeter. Alat yang sering digunakan untuk menangani debu pada tahap awal adalah settling chamber (ruang pengendapan) dan siklon, yang dijelaskan sebagai berikut.
a) Settling chamber
Alat ini merupakan teknologi penanganan debu yang telah diterapkan sejak lama. Prinsip dari alat ini adalah pengendapan berdasarkan gaya gravitasi. Alat ini terdiri dari sebuah chamber (kamar/ruang) besar yang terintegrasi dalam aliran pipa gas pertambangan yang mengandung partikel debu yang akan dipisahkan. Keberadaan ruang tersebut akan mengurangi kecepatan gas yang melewatinya sehingga partikel debu yang cukup besar akan terendapkan di dasar chamber tersebut. Partikel debu yang dapat dipisahkan oleh alat ini berukuran lebih besar dari 60 mm.
Alat inipun kemudian difungsikan sebagai pembersih awal (preliminary cleaners) gas dari sistem penanganan debu yang ada. Alat ini dapat dipasang sejumlah tray pada tiap sisi chamber untuk mempersingkat waktu pengendapan partikel debu yang akan dipisahkan sehingga efisiensi pemisahan dan pengumpulan debu menjadi lebih besar. Settling chamber ini memiliki biaya instalasi dan operasi yang murah, namun juga memiliki efisiensi pengumpulan debu overall yang cukup rendah. Berikut ini adalah skema operasi settling chamber yang pada umumnya digunakan oleh industri pertambangan
b) Cyclone (siklon)
Alat ini menggunakan gaya sentrifugal sebagai driving force pemisahan debu dari gas yang akan dihasilkan kegiatan pertambangan. Alat ini memiliki biaya instalasi dan operasi yang rendah, serta memiliki dimensi yang relatif kecil untuk mendukung efisiensinya. Keuntungan tersebut membuat siklon banyak digunakan industri pertambangan untuk mengumpulkan partikel debu yang akan menimbulkan pencemaran udara. Siklon yang berdiameter kecil akan memberikan gaya sentrifugal sampai 2500 kali dibandingkan dengan gaya gravitasi pada settling chamber. Efisiensi siklon dapat ditingkatkan dengan pengurangan diameter, penambahan panjang siklon, dan penambahan rasio siklon terhadap diameter keluaran gas. Contoh industri yang menggunakan siklon ini adalah Ampol Lytton, industri petroleum refinery di Brisbane, Queensland, dan Alcoa, industri refinery bauksit di Kwinana, Western Australia.
Selanjutnya, partikel debu berukuran lebih kecil dan tidak dapat dipisahkan pada tahap awal akan ditangani pada tahap akhir. Tahap ini dapat menangani partikel debu berukuran diameter kurang dari 5 mm. Alat atau metode yang pada umumnya digunakan pada tahap ini adalah electrostatic precipitator, fabric filter (bag-house), dan wet collector (scrubber). Berikut ini adalah penjelasan mengenai metode tersebut.
c) Electrostatic precipitation
Alat ini memiliki teknik pemisahan partikel padat dan tetesan kecil cairan dari gas terpolusi yang paling efisien. Gas yang mengandung partikel debu dilewatkan melalui daerah yang dialiri listrik bertegangan 50.000 Volt antara dua elektroda dengan polaritas berlawanan. Efesiensi alat ini dipengaruhi oleh laju alir gas yang melalui sistem elekroda, temperatur gas, konsentrasi debu, dan ukuran partikel. Alat ini mampu memisahkan partikel berdiameter di bawah 10 nm dengan efisiensi mencapai 99,5%. Walaupun biaya instalasi dan pemeliharaan alat ini cukup mahal, namun biaya operasinya murah karena menggunakan konsumsi energi yang rendah. Rasio kebutuhan energi untuk electrostatic precipitator mendekati 50% apabila dibandingkan dengan sistem wet scrubbing dan 25% apabila dibandingkan dengan sistem bag filter. Electrostatic precipitation ini digunakan di pertambangan emas Kalgoorlie Consolidated, Australia Barat (gas mengalir melalui electrostatic precipitation sebelum dilepaskan ke atmosfer), di pabrik refinery alumina Alcoa di Kwinana, Australia Barat, dan sejumlah daerah internasional lainnya. Prinsip pemisahan alat ini dapat digambarkan sebagai berikut.
d) Fabric filters
Alat ini sering digunakan sebagai unit tahap akhir filtrasi partikel debu. Lapisan kain atau tenun yang digunakan pada alat ini berfungsi untuk menahan partikel debu yang masih terkandung didalam gas. Walaupun memiliki efisiensi cukup tinggi, alat ini memiliki beberapa kekurangan, di antaranya dapat menyebabkan terjadinya penurunan tekanan gas yang melewati medium filtrasi ini dan terbentuknya lapisan partikel debu di permukaan filter yang akan mempengaruhi proses filtrasi akibat sifat bahan filter tersebut.
e) Wet collector (scrubber)
Venturi Scrubber menghilangkan partikel debu dan kontaminan gas tertentu dari gas aliran dengan memaksanya melewati aliran cair, menghasilkan cairan yang teratomisasi. Tinggi kecepatan diferensial di antara gas kotor dan cairan droplets menyebabkan partikel bertumbukan, kemudian akan berkelompok untuk membentuk tetesan yang lebih besar. Terakhir, tetesan cair tersebut dilemparkan pada dinding alat pemisah dan gas bersih pun dikeluarkan melalui puncak scrubber. Sebelum gas kotor dilepaskan ke dalam scrubber, suhu harus direndahkan di bawah 1000C, dan gas bersih harus dipanaskan kembali sebelum dikeluarkan . Air dipompakan kembali melewati sistem ketika scrubber tidak mampu lagi menahan partikel debu dan bahan yang terlarut. Proses ini beroperasi dengan efisiensi 85% untuk pemidahan sulfur dioksida (SO2), 30% untuk pe Proses ini membedah efisiensi sebanyak sekitar 85% untuk pemisahan dioksida belerang, 30% untuk pemisahan nitrogen oksida (NO), dan 99% untuk pemisahan debu/partikulat. Skema operasi alat ini ditunjukkan dalam gambar berikut.
Sejauh ini, teknologi untuk mengontrol pencemaran sebagian besar didesain unuk memisahkan partikel debu dari emisi gas. Pemisahan polutan gas yang lain pun penting dilakukan dengan teknologi yang spesifik. Misalnya pada pemisahan sulfur oksida (SO2), injeksi batu kapur sangat umum digunakan. Proses tersebut dilakukan di mana batu kapur digiling dengan batubara dan dimasukkan ke dalam tungku perapian. Gas polutan dipanaskan terlebih dahulu dan dimasukkan ke dalam tungku perapian, dimana batu kapur akan bereaksi dengan belerang dioksida (SO2) dan oksigen (O2)untuk menghasilkan kalsium sulfat (CaSO4 atau gips). Proses ini dapat memisahkan sekitar 20-30% sulfur oksida. Senyawa sulfat, abu terbang, dan kapur yang tidak bereaksi mengalir melalui pre-heater sebelum memasuki wet scrubber, agar senyawa tersebut dapat mengalami kontak dengan air. Efisiensi pemisahan yang dapat tercapai adalah sebesar 80% untuk SO2 dan 98% untuk zat partikulat.
Ada beberapa contoh E-environment yang sudah di pakai para manusia dalam lingkungan bisnis contohnya :
1.PENGGUNAAN WEBSITE ATAU SITUS-SITUS DALAM DUNIA BISNIS
Disini para manusia menggunakannya untuk memasarkan barang dangangan yang akan mereka jual. Dengaan penampilanya yang menarik pada sebuah website mereka akan lebih menarik para konsumennya untuk dapat melihat bisnis yang mereka jajakkan serta konsumen tertarik untuk membelinya.
Selain untuk pemasarans sebuah produk dengan website kita dapat mengenalkan kita pada berbagai aspek contohnya dalam pengenalan sebuah situs organisasi yang dapat menghubungkan kita atau kita bisa berinteraksi dengan dunia lingkungan serta kita dapat menarik berbagai informasi dari website tersebut. Contohnya sebagai berikut :
berikut ini adalah contoh dari web E-Environment
WWF Indonesia - Global environmental conservation organization
tampilan seperti dibawah ini
Mengenal WWF-Indonesia dan karyanya di sepanjang kepulauan Indonesia
merupakan salah satu negara dengan wilayah pesisir dan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Ironisnya mayoritas penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan, kota-kotanya merupakan tempat paling tercemar di dunia. Setiap tahun, hijaunya hutan berubah menjadi merah menyala karena terbakar, dan ketika musim penghujan tiba, bencana banjir serta longsor membawa petaka bagi banyak orang.
Tujuan utama WWF-Indonesia adalah untuk menghentikan dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi serta membangun masa depan, dimana manusia hidup selaras dengan alam.
Visi WWF-Indonesia adalah "Pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan di masa mendatang". Misi WWF-Indonesia adalah melestarikan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak yang disebabkan manusia melalui upaya:
Mempromosikan etika pelestarian yang kuat, kesadaran serta aksi di kalangan masyarakat Indonesia
Memfasilitasi upaya multi pihak untuk melindungi keanekaragaman hayati dan proses ekologis dalam skala ekoregional
Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung upaya pelestarian
Mempromosikan pelestarian bagi kesejahteraan masyarakat, melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Jadi, dengan adanya E-environment kiita dapat menganalisis sebuah lingkunagan yang ada di sekitar kita tanpa harus kita jauh-jauh ke tempat itu. Hanya dengan menggunakan sebuah internet kita dapat mengetahui keadaan serta apa saja yang ada di lingkungan tersebut.

